Kerugian Bagi yang Datang Shalat Jum'at Sesudah Khutbah Dimulai

Sangat-sangat ditekankan untuk mendatangi shalat Jum’at (sudah berada di masjid) sebelum imam naik mimbar. Karena para Malaikat berada di pintu-pintu masjid mencatat siapa-siapa yang datang. Yang pertama dicatat pertama, kemudian berikutnya dan berikutnya. Karenanya siapa yang datang lebih awal mendapat keutamaan lebih banyak daripada yang belakangan.

Hukum Doa Qunut Witir di Shalat Tarawih

embaca doa qunut dalam shalat Witir –khususnya saat Qiyam Ramadhan- adalah sunnah. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu disyariatkannya pada shalat witir; ada yang berpendapat sepanjang tahun, selama bulan Ramadhan, dan pada sejak pertengahan Ramadhan sampai akhir.

Beginilah Cara Membayar Fidyah

Pada dasarnya, Allah Ta’ala wajibkan berpuasa atas semua kaum muslimin dengan dikerjakan langsung di bulan Ramadhan itu juga ataupun qadha’.

5 Tips Membaca Cepat

Meningkatnya pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Membaca di sini baik dalam ilmu dunia maupun ilmu agama. Dengan mengefisienkan waktu, bahan bacaan yang begitu banyak bisa dibaca dengan cepat dalam waktu singkat. Tips membaca cepat inilah yang bisa ditempuh.

Doa Agar Kita Tetap Taat Kepad Allah

Sahabatku, sedang apa kalian di malam ahad ini? Semoga kalian tetap selalu ingat dan taat kepada Allah.

Senin, 04 November 2013

Hijrah Masih Tetap Berlaku Sampai Kiamat, Apa Hijrahmu?



         Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Hijrah akan terus berlaku sehingga terputus taubat. Tidak terputus taubat sehingga matahari terbit dari barat. Begitulah isi sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang disampaikan Mu’awiyah Radhiyallahu 'Anhu. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Darimi dalam Sunannya)
Dalam hadits yang lain dari jalur Junadah bin Abi Umayyah, ada beberapa orang dari sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengatakan bahwa tidak ada lagi hijrah. Kemudian terjadi silang pendapat di antara mereka berkaitan hal tersebut. Kemudian Junadah pergi menemui Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan menyampaikan hal tersebut. Lalu beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ الْهِجْرَةَ لَا تَنْقَطِعُ مَا كَانَ الْجِهَادُ
“Sesungguhnya hijrah masih tetap ada selama masih ada jihad.” (HR. Ahmad, terdapat dalam Silsilah Shahihah no. 1674)
Adapun makna hadits dalam Shahihain, “Tidak ada lagi hijrah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat (beramal shalih)” adalah hijrah dari Makkah menuju Madinah setelah penaklukan kota Makkah oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Berarti saat itu Makkah sudah menjadi negara Islam. Kaum muslimin yang ada di Makkah, saat itu, tak diperintahkan lagi hijrah ke Madinah untuk menyelamatkan agama mereka dan menolong utusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sementara orang Islam yang berada di negara musyrik lagi kafir sehingga tak mampu menjalankan perintah-perintah agama dan menampakkan syi’arnya maka ia diwajibkan berhijrah ke negara Islam atau negara yang membolehkan dirinya menjalankan ajaran Islam.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا  إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا  فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?".  Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya.  Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Nisa’: 97-99)
Al-Hafidz Ibnu Katsir menerangkan bahwa ayat ini diturunkan berlaku umum untuk siapa saja yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrikin dan dia sanggup hijrah. Ia tak bisa menegakkan kewajiban dien di tempat tersebut. Jika ia tak mau hijrah maka ia telah menzalimi dirinya sendiri dan melakukan keharaman berdasarkan ijma’. Kecuali orang yang tak mampu secara modal, pengetahuan, kemampuan seperti kakek-kakek & nenek-nenek yang sudah renta, anak-anak kecil, dan orang yang tak punya kemampuan selainnya.
Imam al-Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan: para sahabat kami & ulama-ulama lainny berkata: Hijrah dari daar Harb (negeri berperang terhadap islam) dan daar Islam tetap ada sampai hari kiamat. Mereka memaknakan hadits ini –maksudnya: tidak ada hijarah sesudah Fathu Makkah- menjadi dua pendapat:
Pertama, tidak ada hijrah sesudah Fathu Makkah dari Makkah karena ia telah menjadi negara Islam, maka berpindahan ke Madinah tidak lagi disebut hijrah.
Kedua, pendapat lebih benar, bahwa maknanya adalah hijrah yang utama, penting, dan diperintahkan yang dengannya pelakunya teristimewakan itu terputus dengan penaklukan kota Makkah.
Ini makna hijrah secara fisik dan materi. Ia tetap berlaku sampai akhir zaman untuk keselamatan dien seorang muslim dan untuk membela agama Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Adapun makna hijrah secara ma’nawi jauh lebih luas lagi. Yakni hijrah dari kemaksiatan kepada ketaatan. Maknanya juga mencakup hijrah dari sistem hidup kufur kepada sistem hidup yang Islami. Dalam hal ini kita tertuntut untuk menjalankan hijrah ini.
Kita jadikan moment Hijrah ini sebagai penguat diri untuk memperbaiki diri secara maksimal. kita tata dan manage hati kita supaya tidak lagi menjadi hati yang lalai lagi keras seperti batu karang. Kita bersihkan hati dari kotoran-kotorannya berupa kesyirikan, kekufuran, paham menyimpang, maksiat dan sikap durhaka.  
Kita sadari bahwa kesempatan baru telah ada di hadapan kita. Jika kita diberi umur mengisi tahun baru ini, maka hendaknya kita menjadi menusia yang merasa dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala; bahwa Dia menghimpun segala perbuatan kita dan akan menghisabnya.
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا
Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh. . . ” (QS. Ali Imran: 30)
Sesungguhnya dunia berjalan ke belakang menjauhi kita. Sementara akhirat berjalan menghampiri kita. Setiap kita menjadi pecinta, maka jadilah pecinta akhirat jangan menjadi pecinta dunia. sesunggu hari-hari kita ini adalah saat beramal bukan dihisab. Sedangkan besok (di akhriat) saat kita dihisab dan bukan waktu beramal. Jika ingin baik, maka baiklah segera & mulai dari sekarang. Karena keinginan baik sesudah berpindah dari dunia tak ada gunanya.
Moment perpindahan tahun dari 1434 kepada 1435 Hijriyah ini kita jadikan semangat membuka lembaran baru dalam hidup kita. Yakni lembaran yang tak tertulis padanya kecuali kebaikan-kebaikan dan terhindar dari kemungkaran-kemungkaran. Semoga Allah membeirkan taufik kepada kita semuanya. Aamiin.

Sumber :  http://www.voa-islam.com

Kenapa Dalam Menjalankan Ketaatan Harus Disertai Kesabaran?




        Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Para ulama membagi sabar menjadi tiga bagian; Pertama, sabar di atas ketaatan. Kedua, sabar dari apa saja yang Allah haramkan. Ketiga, bersabar saat tertimpa takdir ketetapan Allah yang dirasa menyakitkan (musibah).
Jika makna sabar secara bahasa adalah menahan diri, yakni menahan diri dari apa yang tdak disukai jiwanya. Maka pada bagian kedua & ketiga kita akan memakluminya, yakni sabar (menahan diri) dari menuruti syahwat dan dorongan nafsu; dan sabar (menahan diri) dari mengeluh dan mengumpat atas musibah yang Allah takdirkan atas dirinya, lalu ia ridha kepadanya dan berharap pahala kepada Allah atasnya. Kemudian dalam ketaatan kok kita harus sabar, kenapa?
Sebabnya, karena ketaatan dirasa berat oleh jiwa & fisik seseorang sehingga sehingga ia merasa kesulitan menjalankannya. Apalagi kalau fisiknya lemah dan capek, maka beratnya menjalankan ketaatan semakin terasa. Karenanya untuk menjadi ahli tha'ah sangat dibutuhkan kesabaran untuk dawam (kontinyu) menjalankannya.
Di sisi lain, ketaatan terkadang membutuhkan modal duit seperti zakat, infak, haji dan semisalnya maka menjalankan ketaatan-ketaatan ini menjadi beban bagi jiwa manusia. Karena tabiat dasar manusia itu pelit, sayang & eman-eman terhadap harta yang telah diusahakannya. Karenanya seseorang dalam menjalankan ketaatan ia harus mampu melawan apa-apa yang tidak disukai jiwannya, ia harus mampu mengalahkan kecenderungan jiwanya yang ingin berleha-leha, malas, tidak mau ada beban, dan ingin menikmati kesenangan-kesenangan.
Ringkasnya, dalam menjalankan ketaatan terdapat sesuatu yang berat atas jiwa dan fisik kita. Karenanya menjalankannya membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Siapa yang mampu bersabar, atas ketaatan ini dan ditmabah dengan dua macam kesabaran lainnya di atas maka ia akan mendapatkan keberuntungan hidup.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Sumber :  http://www.voa-islam.com

Kamis, 24 Oktober 2013

Senin Ini Jadwal Puasa Hari Arafah, Bisa Menghapuskan Dosa Dua Tahun




           Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam teruntuk hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Hari Arafah tahun ini jatuh pada besok hari, Senin 14 Oktober 2013 M. Para Hujjah melaksanakan wuquf di 'Arafah. Selain mereka disunnahkan berpuasa padanya.
Para ulama sepakat, puasa hari 'Arafah adalah puasa sunnah dalam sehari yang paling utama. Keutamannya diterangkan dalam hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
Puasa hari 'Arafah; aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim dari hadits Abu Qatadah Radhiyallahu 'Anhu)
Dalam redaksi lain, "Dan beliau ditanya tentang puasa hari 'Arafah, lalu beliau menjawab:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun sesudahnya.” (Muslim)
Al-Madhiyah: Setahun yang telah lalu, yakni pada tahun tersebut karena yaum 'Arafah berada di penghujung tahun. Sedangkan al-Baqiyah: setahun yang akan datang. Jadi puasa hari 'Arafah menghapuskan dosa dua tahun.
Karenanya, mari kita berpuasa Arafah yang tahun ini jatuh pada besok hari, Senin 14 Oktober 2013 M. Semoga puasa ini meninggikan derajat kita, memperbanyak catatan kebaikan kita, dan menghapuskan dosa-dosa kita.
Perbanyak Amal Shalih Padanya
Di samping berpuasa pada hari 'Arafah, dianjurkan juga untuk memperbanyak amal-amal shalih lainnya seperti shalat sunnah, sedekah, zikir, takbir, tilawah Qur'an, berbakti kepada orang tua, dan amal-amal shalih lainnya. Ini berlaku pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah secara umum. Secara khusus, lebih dianjurkan pada hari 'Arafah.
Sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

"Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Dawud dan  Ibnu Majah)
Semoga Allah limpahkan kekuatan dan taufik kepada kita sehingga bisa mengerjakan puasa dan amal shalih lainnya pada hari 'Arafah sehingga terhapuskan dosa-dosa kita selama dua tahun.

Sumber : Voa-Islam.com

Sabtu, 12 Oktober 2013

Kerugian Bagi yang Datang Shalat Jum'at Sesudah Khutbah Dimulai


Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Sangat-sangat ditekankan untuk mendatangi shalat Jum’at (sudah berada di masjid) sebelum imam naik mimbar. Karena para Malaikat berada di pintu-pintu masjid mencatat siapa-siapa yang datang. Yang pertama dicatat pertama, kemudian berikutnya dan berikutnya. Karenanya siapa yang datang lebih awal mendapat keutamaan lebih banyak daripada yang belakangan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَقَفَتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَيَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ إِلَى الْجُمُعَةِ كَمَثَلِ الَّذِي يُهْدِي بَدَنَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَقَرَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي كَبْشًا ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي دَجَاجَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ وَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ طَوَوْا صُحُفَهُمْ وَجَلَسُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
"Jika tiba hari Jum'at, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum'at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah)." (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164)
Hadits ini menunjukkan kerugian bagi orang yang terlambat datang ke masjid sehingga imam naik mimbar. Yakni, para malaikat menutup buku catatan mereka dan tidak mencatat tambahan pahala bagi orang-orang yang datang dan masuk ke masjid setelah imam naik mimbar.
Dalam sebuah hadits yang dihasankan oleh Syaikh al Albani, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Para Malaikat duduk pada hari Jum'at di depan pintu masjid dengan membawa buku catatan untuk mencatat (orang-orang yang masuk masjid). Jika imam keluar (dari rumahnya untuk shalat Jum'at), maka buku catatan itu dilipat.”
Kemudian Abu Ghalib bertanya, “wahai Abu Umamah, bukankah orang yang datang sesudah imam keluar mendapat Jum'at?” Ia menjawab, “Tentu, tetapi ia tidak termasuk golongan yang dicatat dalam buku catatan.”
Datang Lebih Awal Syarat Dapat Pahala Sempurna
Diriwayatkan dari Aus bin Aus radliyallah 'anhu, berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا
Barangsiapa mandi pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 6405)
Hadits ini menjelaskan bahwa berangkat lebih awal ke masjid menjadi syarat untuk mendapatkan keutamaan pahala shalat Jum'at dengan sempurna. Dan berangkatnya ke masjid disunnahkan dengan berjalan kaki. Karena itu Imam al Nasai dan al Baihaqi membuat bab khusus dalam kitab mereka, “Keutamaan berjalan kaki untuk shalat Jum'at.”
Abu Syamah berkata, “Pada abad pertama, setelah terbit fajar jalan-jalan kelihatan penuh dengan manusia. Mereka berjalan menuju masjid jami' seperti halnya hari raya, hingga akhirnya kebiasaan itu hilang.” Lalu dikatakan, “Bid'ah pertama yang dilakukan dalam Islam adalah tidak berangkat pagi-pagi menuju masjid.” (Dinukil dari Akhtha' al Mushalliin -edisi Indonesia: Kesalahan-kesalahan dalam shalat-, Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan, hal. 236)
Karenanya, kami himbau kepada suadara seiman untuk datang ke shalat Jum’at lebih awal. Diusahakan sudah berada di masjid sebelum imam naik ke mimbar. Ini sebagai bukti kecintaan kepada Allah dan merasakan kenikmatan dalam beribadah. Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber : VOA ISLAM

Minggu, 15 September 2013

Keterbukaan Rasulullah SAW Memberi Maaf Kunci Utama Keberhasilan Dakwah Islam





Ilustrasi. (inet)
                       Keterbukaan hati menerima perbedaan dan kekurangan, mendengar sanggahan, memaafkan kesalahan, dan cinta damai, kunci utama keberhasilan dakwah. Yang terbuka hatinya mampu menyikapi dan memecahkan masalah, meluruskan yang bengkok dan menyambung yang patah, mengayomi dengan bijak, merangkul yang jauh, menghangatkan suasana, menyakini titik temu (sikap dan pikir) terdapat di pelbagai pintu kehidupan, sementara titik beda dapat diperkecil lobangnya, ditutup rapat dan ditimbun dengan benih-benih kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
Rasulullah Saw hamba Allah SWT yang paling terbuka menyikapi kehidupan; terbuka mendengarkan keluh-kesah umat, meski itu datang dari rakyat jelata, terbuka menerima perbedaan, meski itu datang dari musuh-musuh Islam yang tidak diragukan lagi kebencian dan kedengkian mereka terhadap keberhasilan dakwahnya, merangkul semua pecinta dan perindunya dari sahabat tanpa membedakan kasta dan derajat sosial mereka, terbuka menerima ejekan dan penghinaan yang lahir dari kebodohan mereka terhadap hakikat syariat, dan terbuka memberi maaf, meski itu sulit dimaafkan menurut kita, orang-orang awam.
Seseorang yang terbuka menerima perbedaan, boleh jadi menemukan kejanggalan di hatinya tatkala ingin memberi maaf. Dia dengan ringan membuka hati mendengar dalil dan argumen lawan, tetapi belum tentu hatinya lapang memaafkan orang-orang yang pernah menginjak-injak kehormatan dirinya. Telinga tidak punya beban menyimak, tetapi lidah kadang terasa berat mengucap kata maaf dan tangan seperti terpaku oleh sikap dingin yang enggan diulurkan memberi maaf. Tetapi, fitrah Rasulullah Saw melampaui semua sifat-sifat tersebut yang lumrah ditemukan di masyarakat awam dan mencontohkan keterbukaannya untuk diteladani umat di kemudian hari. Sungguh, ini keistimewaan tersendiri terhadap etika gaul dan muamalah Rasulullah Saw yang menakjubkan.
Perang uhud salah satu kejadian yang paling berat dirasakan Rasulullah Saw, tetapi yang terberat dari itu, seperti penuturan Sayyidah Aisyah RA, kejadian hari Aqabah di saat Ibn Abdu Yâlil bin Abdu Kulâl dan orang-orang musyrik menolak ajakannya memeluk Islam. Kejadian pahit ini melukahi perasaannya sehingga itu terlihat dengan jelas di mukanya yang dirundung duka. Jibril AS pun mendatanginya dan berkata: “Sesungguhnya Allah SWT mendengar dan mengetahui sikap mereka yang enggan menerima dakwah Islam. Olehnya itu, Allah mengutus malaikat gunung-gunung untuk mengikuti apa pun yang Anda perintahkan.” Malaikat itu pun memberi salam dan berkata: “Wahai Muhammad, Jika Anda menginginkan kehancuran mereka, saya dapat mengurung dan menjepit mereka dengan kedua pegunungan besar dan panjang yang mengitari kota Mekah.” Jawabnya: “yang saya inginkan, Allah  SWT akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka keturunan yang menyembah Allah SWT dan menyucikan-Nya dari kemusyrikan.” (Hadits riwayat Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Tentunya, ini keistimewaan tersendiri terhadapnya. Umumnya, yang dizalimi jika ditawari tawaran seperti ini, ia akan menerima dan menghitungnya sebagai kelebihan tersendiri terhadap dirinya. Bahkan tidak sedikit nabi-nabi Allah SWT yang menginginkan kemusnahan kaum mereka yang tidak beriman. Tetapi Rasulullah Saw mengukir sejarah tunggal yang mengabadikan namanya sebagai nabi yang paling peduli dan pemaaf terhadap kaumnya, meskipun penyiksaan dan pembangkangan mereka di luar batas kemanusiaan. Bahkan, yang lebih menakjubkan lagi jika sikap keras kepala mereka diabaikan Rasulullah Saw dan dijawab dengan doa pengampunan terhadap mereka: “Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui hakikat agama yang aku emban.” (Hadits riwayat Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Rasulullah Saw telah mengasihani dan menyanyangi kita, tetapi apakah pernah kita memikirkan itu dan tersentuh olehnya? Sekarang, jawablah kasih sayang tersebut dengan meneladaninya di setiap kesempatan.
Yang diketahui juga Rasulullah Saw keluar terusir dari kota Mekah di malam hari dan kembali menaklukkannya di siang hari setelah menghancurkan patung-patung yang tergantung mengotori Ka’bah. Masyarakat Mekah panik dan takut melihat kejadian tersebut seperti tidak percaya apa yang sedang ditonton oleh mata telanjang mereka. Rasulullah Saw dengan ringan bertanya: “apa yang engkau sekalian kira aku akan menjatuhkannya kepadamu?” mereka dengan etika diplomasi mengharap keringanan dan maaf menjawab: “saudara (maksudnya Rasulullah Saw) mulia dan anak dari saudara kami yang mulia,” ucapan ini cukup menggugah dan menyentuh hati Rasulullah Saw yang mendorongnya bersikap lunak dan bersaudara terhadap mereka dan memberi pernyataan maaf yang tidak pernah hilang dari ingatan umat: “pergilah, kalian semua dibebaskan, selamat dan terjaga harta dan kehormatan kalian untuk disentuh dan dikotori.” Rumah-rumah masyarakat Mekah yang terkunci rapat dan takut invasi Rasulullah Saw, kini terbuka lebar menerima kedatangannya dan mereka pun berbondong-bondong membaiatnya.”
Memberi maaf kadang memberi sentuhan kehidupan yang tidak terduga dan itu menjadi perekat sosial yang menumbuhkembangkan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama. Siapa yang menduga telinganya akan terkorek oleh ucapan maaf dari orang yang pernah ia sakiti? Siapa yang mengira tangannya akan terguncang hebat dijabat oleh orang yang pernah ia zalimi memberi maaf? Di sini Rasulullah Saw telah menjadi obor terang kehidupan yang mencontohkan sifat ringan memberi maaf yang melahirkan ketentraman sosial di antara elemen masyarakat.
Jangan kira meminta maaf itu meruntuhkan kehormatan jati diri karena takut dipandang remeh, justru itu langkah awal yang menyuguhkan kebaikan-kebaikan yang tidak terduga! Jangan kira memberi maaf itu kemuliaan diri Anda sendiri, tetapi itu salah satu bentuk kepatuhan Anda terhadap teks-teks syariat yang menganjurkan Anda memberi maaf dengan ikhlas karena Allah! Yang demikian itu supaya pahala Anda tidak runtuh hanya karena dikendarai rasa puji diri.
Contoh lain, di Sunan Imam Abu Daud Rasulullah Saw ditemani Sayyidina Anas RA di sebuah perjalanan, tiba-tiba dikagetkan oleh sosok bayangan yang menyambar sekilat petir selendang Nejeran Rasulullah Saw yang melilit kuat di lehernya sehingga meninggalkan bekas merah di lehernya. Yang bersama dengan Rasulullah Saw dari sahabat tidak menerima perbuatan tersebut dan ingin balik memberikan pelajaran terhadap orang tersebut yang tidak terlupakan dalam lembaran-lembaran hidupnya. Namun, Rasulullah Saw menengoknya dan memberi senyum kesejukan yang mengusir rasa takut dalam dirinya dan memerintahkan selendang Nejerannya itu untuk dihadiahkan untuknya. Seandainya saja orang tersebut dilukai sahabat atau dibunuh karena praduga salah, orang ini akan terzalimi dan semuanya pun ikut bersalah. Sikap dingin Rasulullah Saw ini memecah keheningan suasana dengan kehangatan senyumnya yang menyejukkan hati.
Seperti yang diriwayatkan Shahih Imam Muslim, Rasulullah Saw tidak pernah memukul sesuatu di tangannya, seorang perempuan atau hamba sahaya, kecuali di jalan Allah SWT berjihad. Yang demikian itu karena tangan identik dengan kekerasan, sementara itu, Rasulullah Saw tidak pernah ditemukan melakukan balas dendam hanya karena kepentingan dirinya sendiri, tetapi dia ditemukan melakukannya jika kehormatan Allah SWT telah dinodai dan diinjak-injak.
Sungguh ini sebuah keistimewaan yang luar biasa. Hematnya, tidak ada satu pun dari pemerhati nilai-nilai kemanusiaan kecuali tunduk mengakui keistimewaan ini yang menempatkan Rasulullah Saw sebagai “the greatest one” yang paling bersinar memaknai dan mewarnai kehidupan dengan nilai-nilai islami. Hal yang sama ditemukan di Sayyidina Ali RA yang tidak menghujani musuh yang meludahi mukanya setelah kalah tanding dengan tikaman dan tebasan pedang. Yang demikian itu Sayyidina Ali RA takut orang tersebut terbunuh dengan zalim, terbunuh dengan motif balas dendam yang dipengaruhi hawa nafsu, bukan karena Allah SWT semata di jalan jihad. Sikap jantan dan luar biasa ini menuntun musuhnya memeluluk Islam dan mengakui keagungan dan keindahannya. Alhamdulillah yang memperlihatkan kilauan kebenaran hakikat agama ini di tangan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Mereka menyakini bahwa yang kuat itu bukan yang keras kepalan tangannya meninju atau menampar, tetapi yang kuat itu yang mampu menguasai diri dan mengendalikan emosinya di saat marah.
Hematnya, Rasulullah Saw telah memberi gambaran hidup terhadap teks-teks syariat yang menganjurkan keterbukaan memberi maaf. Olehnya itu, ia disifati sebagai pengemban syariat Allah yang berakhlak mulia, punya kedudukan paling tinggi di sisi Allah SWT. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw hamba terbaik dalam menafsirkan dan memaknai nama-nama Allah yang terkait dengan tema ini, seperti: (الرحمن), (الرحيم), (الغفار), (الكريم), (الغفار), (العفو), (الرؤوف).
Olehnya itu, maaf-memaafkan terhitung rukun lingkungan masyarakat yang menjaga roda sosial tetap berjalan dengan penuh keseimbangan di atas rel kehidupan. Dia tiang dan sandaran yang tidak pernah roboh menopang bagi siapa saja yang ingin menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Yang demikian itu karena seandainya setiap orang yang dizalimi mengikuti nafsunya balas dendam, maka masyarakat ini akan runtuh. Satu penumpang saja melakukan kerusakan di kapal dengan membuka papan-papan sandarannya atau mencopot tiang layarnya, dipastikan semua penumpangnya terancam ombak yang setiap waktu siap menelan korban. Apalagi jika yang melakukannya lebih dari satu orang. Jika setetes darah saja mengalir dari satu orang yang dizalimi mewariskan pilu dan sedih, bagaimana jika darah itu mengucur kuat dari korban-korban kekerasan yang menindas?
Sadar hal ini, wajib bagi setiap lapisan masyarakat saling memaafkan, menempatkan kebaikan di atas segala-galanya, menjadikan santun ganti dari amarah, membongkar kata hati yang menghembuskan niat-niat jahat dengan sabar. Masyarakat seperti ini masyarakat mulia yang membangun stabilitas keamanan dan kekokohannya dengan menciptakan solidaritas persatuan dan persaudaraan yang kuat. Masyarakat islami yang didambakan para pecinta masyarakat ideal dari kalangan pemikir dan orientalis Eropa.
Memberi maaf seperti yang diriwayatkan hadits-hadits nabi memiliki kemuliaan yang tidak terhingga. Dia mewariskan keagungan, kasih sayang antar sesama, mengangkat derajat, menghapus keburukan, dan menjanjikan pahala yang besarnya hanya diketahui Allah SWT.
Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati keistimewaan Rasulullah Saw menyuarakan kesimpulan berikut:
“Memberi maaf tidak mewariskan kecuali kebaikan dan kemuliaan. Masyarakat islami yang ideal masyarakat yang hidup bersandarkan dan berpegangan dengan sifat mulia ini. Memberi maaf sangat mulia karena ia tafsiran kuat dan pemaknaan tinggi terhadap nama-nama Allah, seperti: (الرحمن), (الرحيم), (الغفار), (الكريم), (الغفار), (العفو), (الرؤوف). Karena Rasulullah Saw hamba Allah yang paling baik menafsirkan dan memaknai Asmaullahi al-Husna, ia pun pemakna dan penafsir tidak tertandingi dalam menghidupkan maaf-memaafkan ( الصفح,العفو) seperti yang diperintahkan teks-teks syariat yang memenuhi ruang-ruang kehidupan dengan persaudaraan dan persatuan yang kokoh sehingga semua lapisan masyarakat terpadu meraih kesejahteraan dan keselamatan dunia-akhirat. Keistimewaan Rasulullah Saw ini patut disyukuri dan lebih mendekatkan diri kita ke pengamalan sunnah-sunnahya. Amin ya Rabbal Alamin.”

Sumber : Dakwatuna.com

Cara Kerja Malaikat Maut



 ilustrasi Malaikat Maut
                     Sebagian Para Nabi berkata kpd Malaikat pencabut Nyawa. “Tdkkah kau memberi aba2/peringatan kpd manusia bhw kau dtg sbg malaikat pencabut nyawa shg mrk akan lebih hati-hati?”
Malaikat itu mnjawab. “Demi Allah, aku sdh memberi aba2& tanda2 yg sgt banyak berupa sakit, uban, kurang dengar, kurang penglihatan(utama ketika sdh tua). Semua itu peringatan bhw sebentar lagi aku akan menjemputnya. Apabila setelah dtg aba2 tadi ia tdk segera bertobat & tdk mmpersiapkan bekal yg cukup, maka aku akan serukan kpdnya ketika aku cabut nyawanya: “Bukankah aku telah memberimu banyak aba2 & peringatan bhw aku sebentar lagi akan datang? Ketahuilah, aku adlh peringatan terakhir, setelah ini tdk akan dtg peringatan lainnya “ (Imam Qurthubi)
Nabi Ibrahim pernah bertanya kpd Malaikat maut yg mempunyai dua mata di wajahnya & dua lagi tengkuknya. “Wahai malaikat pencabut nyawa, apa yg kau lakukan seandainya ada dua org yg mati di saat yg sama; yg satu berada di ujung timur yg satu berada di ujung barat, serta di tmp lain tersebar penyakit yg mematikan & 2 ekor binatang melata pun akan mati?”
Malaikat pencabut nyawa berkata:” Aku akan panggil ruh2 tsb, dg izin Allah, shg semuanya berada diantara dua jariku, Bumi ini aku bentangkan lalu aku biarkan spt sebuah bejana besar & dpt mengambil yg mana saja sekehendak hatiku “(HR abu Nu’aim)
ORG MATI MENDENGAR TP TDK BISA MENJAWAB.
Rasullullah saw memerintahkan agar mayat2 org kafir yg tewas pd perang badar dilemparkan ke sebuah sumur tua. Lalu beliau mendatanginya & berdiri di hadapannya. Setelah itu, beliau memanggil nama mrk satu2: “Wahai fulan bin fulan, fulan bin fulan, apakah kalian mendapatkan apa yg telah dijanjikan oleh Tuhan kalian utk kalian betul2 ada? Ketahuilah sesungguhnya aku mendapatkan apa yg dijanjikan Tuhanku itu benar2 ada & terbukti.”
Umar lalu bertanya kpd Rasulullah. “Wahai Rasul, mengapa engkau mengajak bicara org2 yg sdh mjd mayat?”
Rasulullah menjawab. “Demi Tuhan yg mengutusku dg kebenaran, kalian mmg tdk mendengar jwban mrk atas apa yg tadi aku ucapkan, Tapi ketahuilah, mrk mendengarnya, hanya saja tidak dpt menjawab” (HR Bukhari Muslim)

sumber : Dakwatuna.com

Fir’aun Kalah dengan Keyakinan Seorang Ibu

Ilustrasi - Peta Mesir dan Sungai Nil. (inet)

                      Saat itu, penduduk Mesir terbagi menjadi dua bagian, Bani Israil dan Koptik. Musa as. dari kalangan Bani Israil; sedangkan Fir’aun dari kalangan Koptik. Orang-orang Bani Israil hidup dalam penindasan Koptik yang berkuasa saat itu.
Kebanyakan Bani Israil dieksploitasi untuk kerja-kerja kasar dan berat, atau dengan kata lain mereka telah menjadi budak. Sebelumnya, di zaman Nabi Yusuf as., Mesir berada dalam penjajahan pihak asing sehingga tidak mengherankan jika kaum pendatang mendapatkan banyak keistimewaan untuk melemahkan posisi pribumi. Sedangkan mendekati masa kehidupan Nabi Musa as., pribumi berhasil kembali berkuasa. Maka tiba saatnya kaum pendatang berbalik menjadi kaum yang tertindas.
قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا
“Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.” [Al-A’raf: 129].
Disebutkan juga beberapa bentuk penderitaan Bani Israil:
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al-Qashash: 4].
Dalam sebuah perbincangan dengan para pejabat pemerintahan, Fir’aun teringat dengan janji Allah swt. kepada Nabi Ibrahim as. bahwa di antara keturunannya akan ada yang menjadi nabi sekaligus raja. Ada beberapa pejabat yang berkata, “Orang-orang Bani Israil sedang menunggu-nunggu janji tersebut. Mereka sama sekali tidak meragukannya. Awalnya, mereka mengira janji itu terwujud dengan diutusnya Yusuf as. Tapi setelah beliau wafat, mereka yakin bahwa bukan Yusuf as. yang dijanjikan Allah swt.” Maka Fir’aun pun bertanya, “Lalu apa pendapat kalian?”
Fir’aun ingin tahu bagaimana cara menjaga kekuasaannya dari ancaman datangnya seorang nabi dan raja dari kalangan Bani Israil. Setelah bertukar pendapat, mereka pun bersepakat untuk menyebarkan petugas, berkeliling di kantong-kantong Bani Israil. Kalau didapati ada bayi laki-laki, maka harus segera dibunuh. Hanya bayi laki-laki yang mereka bunuh karena seorang nabi harus berkelamin laki-laki. Tidak ada nabi perempuan.
Akan datang Musa, janji Allah swt. yang disampaikan nabi Ibrahim as. Saat itu, nabi yang dijanjikan Allah swt. hanyalah seonggok bayi yang tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa. Kepada makhluk kecil inilah sebenarnya ketakutan Fir’aun, padahal dia telah mengaku dirinya sebagai Tuhan yang berkuasa melakukan apa saja.
Sungguh hanya kekuasaan Allah swt. yang bisa melakukannya. Karena hati manusia berada di antara dua jemari Allah swt. Dengan mudahnya, dibolak-balikkan. Seorang Fir’aun yang sangat berkuasa bisa terganggu dan merasa terancam dengan seorang bayi kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya Allah swt. lah yang berkuasa memberi bayi itu kekuatan. Allah swt. Maha Kuat, Maha Berkehendak, Maha Mengatur segalanya.
Setelah beberapa tahun pemberlakuan politik ini, mereka tidak menyadari bahwa kalangan tua Bani Israil banyak yang meninggal dunia karena faktor usia; sedangkan kalangan anak kecil meninggal karena dibunuhi. Ada beberapa pejabat yang menyampaikan kekhawatiran, “Politik yang kita jalankan sebentar lagi akan membuat Bani Israil punah. Kalau mereka punah, maka kalian harus kembali mengerjakan tugas-tugas keras dan berat yang sebelumnya mereka kerjakan. Maka sebaiknya, tidak setiap tahun politik ini diberlakukan. Satu tahun dijalankan; satu tahun tidak. Kalau demikian, maka anak-anak yang dibiarkan tumbuh besar akan menggantikan orang-orang tua yang meninggal dunia. Kalian akan bisa mengendalikan jumlah mereka, sehingga tidak akan melebihi jumlah kalian, dan juga tidak akan punah.” Mereka pun sepakat dengan jalan keluar ini.
Melahirkan Musa
Ibunda Musa as. mengandung Harun pada tahun tidak diberlakukannya pembunuhan anak sehingga beliau tidak perlu menyembunyikan kehamilannya. Kemudian beliau mengandung Musa pada tahun diberlakukannya pembunuhan anak sehingga beliau merasa sangat sedih dan takut.”
Saat itu suasana sangat mencekam dan menakutkan. Banyak orang dibunuh atau terpaksa melarikan diri mencari keselamatan. Tahun itu adalah tahun diberlakukannya politik pembunuhan bayi laki-laki. Saat itu sangat nampak kekejaman Fir’aun dan para pendukungnya dari kalangan Koptik. Penderitaan Bani Israil tersebut digambarkan Al-Qur’an dalam banyak ayat.
 وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” [Al-Baqarah: 49].
Selain dari kalangan tertindas, keluarga Musa termasuk keluarga yang sangat miskin dan lemah. Ibu Musa adalah wanita biasa, yang tidak mempunyai rencana bagaimana menyelamatkan anaknya. Oleh karena itu hatinya selalu berdebar dan bersedih meratapi nasib bayi kecilnya nanti. Bagaimana mungkin beliau bisa menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun dan para jagalnya. Tidak bisa digambarkan suasana hati beliau saat itu. Seluruh bagian dirinya turut merasa takut dan mengkhawatirkan keselamatan anaknya.
Namun Allah swt. memberikan ilham yang membuatnya hatinya lebih teguh, kuat, tenang, dan yakin dengan pertolongan dari Allah swt. Allah swt. juga menunjukkan jalan untuk menyelamatkan bayinya. Beliau diperintahkan untuk menyusuinya dengan tenang, lalu memasukkannya ke dalam kotak untuk melarungkannya di sungai Nil jika khawatir akan diketahui pasukan Fir’aun. Ketika melarungkan anaknya, hendaknya merasa yakin dengan pertolongan Allah swt., dan menyerahkan semuanya kepada Allah swt. Karena saat itu, Musa berada dalam perlindungan Allah swt. yang Maha Menciptakan, Memberi Rezeki, dan Memberi Kehidupan.
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” [Al-Qashash: 7]
Dalam ayat ini terdapat dua janji Allah swt.:
Pertama, janji yang dekat. Allah swt. akan menyelamatkan Musa dan memulangkannya. Bahkan beliau akan menerima upah menyusui anaknya sendiri. Allah swt. mempunyai caranya sendiri untuk memulangkan Musa sehingga hidup dengan aman dengan ibunya.
Kedua, janji yang jauh. Allah swt. akan menjadikan Musa sebagai seorang rasul. Ini berarti Musa akan hidup hingga dewasa dan menjadi seorang nabi. Bahkan Musa akan dapat mengalahkan Fir’aun seperti disebutkan sebelumnya.
وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ. وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ.
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” [Al-Qashash: 5-6].
Sungguh janji yang sulit dipercaya. Musa sudah hanyut dibawa arus sungai yang dalam dan panjang. Mana mungkin dia bisa selamat. Walaupun demikian, kalau seseorang beriman kepada Allah swt., dia pasti akan meyakini bahwa Allah swt. tidak akan memungkiri janji-Nya.
Seorang ibu dengan penuh cinta menyusui anaknya, lalu bagaimana perasaannya ketika dia memasukkannya ke dalam kotak? Apa yang dirasakannya ketika kotak itu dilepaskan  ke sungai, bergoyang-goyang terkena gelombangnya, kadang berputar-putar di pusarannya? Iman kepada Allah swt. benar-benar melahirkan keyakinan; keyakinan melahirkan keberanian.
Setelah melepas kepergian anaknya, hati ibu Musa pun terus memikirkannya. Inilah manusia, yang lemah dan kadang bisa berubah-ubah keadaannya. Kalau tanpa taufiq dan hidayah dari Allah swt., tentu dia akan bertindak yang ceroboh yang bisa membahayakan anaknya sendiri. Namun Allah swt. menguatkannya sehingga tetap yakin dengan pertolongan Allah swt. Beliau hanya memerintahkan kakak perempuan Musa untuk mengikuti secara sembunyi-sembunyi ke mana Musa pergi.
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ.
“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa.  Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya.” [Al-Qashash: 10-11].
Musa Selamat; Tanda Kekuasaan Allah swt.
Allah swt. yang memelihara seorang bayi di dalam rahim ibunya. Dan Allah swt. jugalah yang memeliharanya setelah lahir. Allah swt. memberinya petunjuk, menyiapkan rezekinya, dan menyiapkan orang yang akan menjaganya dari segala bahaya. Bahkan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, Musa akan dipelihara oleh Asiyah, istri Fir’aun sendiri. Dengan kata lain, dia akan tumbuh berkembang bersama Fir’aun, orang yang selama ini sebenarnya ingin mengeyahkannya dari kehidupan.
Di antara kekuasaan Allah swt. pada peristiwa ini:
Pertama, Allah swt. menyelamatkan Musa dari tenggelam di sungai. Itu karena semua makhluk adalah tentara Allah swt. Jika Allah swt. memerintahkan, mereka selalu dalam kondisi siap melaksanakan tugasnya. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin kotak itu sampai ke alamat dengan tepat? Air sungai adalah tentara Allah swt. yang diperintahkan-Nya mengantar Musa ke istana Fir’aun. Nantinya air jugalah yang akan diperintahkan Allah swt. untuk membinasakan Fir’aun. Air keselamatan, air kebinasaan.
وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Fath: 7].
Kedua, Allah swt. menyiapkan keluarga Fir’aun untuk memungut dari sungai Nil sehingga selamat dari tenggelam. Padahal mereka adalah musuh yang menunggu-nunggu waktu untuk membunuhnya.
فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ
“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” [Al-Qashash: 8].
Ketiga, Allah swt. menumbuhkan rasa cinta di hati istri Fir’aun kepada bayi tersebut. Padahal suaminya adalah raja yang sangat kejam. Istri Fir’aun tersebutlah yang nantinya akan menjadi pelindung Musa dari segala bahaya yang mengancamnya. Karena Fir’aun sebenarnya tidak setuju dengan keputusan istrinya mengambil dan mengadopsi bayi tersebut.
وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
“Dan berkatalah istri Firaun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” [Al-Qashash: 9].
Keempat, Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa istri Fir’aun membawa Musa ke beberapa wanita untuk disusui. Namun tidak ada yang bisa menyusuinya. Hingga datanglah saudara perempuan Musa yang sebelumnya diperintahkan ibunya untuk mengikuti perkembangan kabar Musa. Maka saat itu, dia menawarkan kepada istri Fir’aun untuk mencarikan wanita yang cocok untuk menyusuinya.
وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ. وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ.
“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” [Al-Qashash: 11-12].
Hal tersebut dikehendaki dan diatur Allah swt. agar Musa pulang dan bertemu dengan ibunya lagi.
فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” [Al-Qashash: 13].
Demikianlah, ketika sudah berjanji, Allah swt. pasti akan menepatinya. Segala yang dikehendaki Allah swt. pasti akan terwujud. Kewajiban manusia hanya mengimani kehendak Allah swt. dan bertawakal kepada-Nya.

sumber : Dakwatuna.com

Kapankah Pertolongan Allah itu datang?

Gambar Ilustrasi

 Kapankah pertolongan Allah itu datang? padahal lebih dari 5 ribu syuhada yang gugur, lebih dari 10 ribu orang dipenjara dan 20 ribu korban luka-luka.
Pertanyaan yang dilontarkan orang-orang mukmin yang benar-benar berjihad dan mengorbankan seluruh harta bahkan jiwanya untuk dakwah ini, sangat manusiawi . Apakah pertolongan Allah itu datang terlambat? kenapa? dan apa penyebabnya? kapankah pertolongan Allah itu hadir di hadapan kita?
Seluruh pertanyaan-pertanyaan ini bisa kita temukan jawabannya setelah kita mentadabburi surat al-Ahzab tentang pertolongan Allah SWT yang selama ini kita mimpikan. Sesungguhnya sebuah kemenangan itu memiliki kaidah dan sebab-sebab bagaimana kita meraih kemenangan yang hakiki dalam sepuluh poin berikut:
Pertama, Kemenangan itu sebuah keniscayaan dan kepastian, bahkan memiliki “pasukan” yang hanya diturunkan dan diketahui Allah semata.
Siapa pun tidak mengetahuinya kapan diturunkan “pasukan” itu dan seperti apa turunnya. Hanya Allah saja yang Maha Mengetahui. Bisa jadi “Pasukan” penolong itu ada dalam barisan musuh, dan bisa jadi pasukan Allah itu dalam bentuk yang lain, seperti Angin, gempa, dan lain-lain. Namun kita tidak dapat melihat pasukan itu; “lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya…”
Semua ini merupakan penuh hikmah dan agar kita selalu husnudzan dengan Allah SWT bahwa pasukan Allah itu bukan hanya berbentuk manusia
Kedua, Pertolongan Allah itu sangat dekat dan akan diberikan Allah ketika kita juga memberikan kontribusi yang terbaik yang kita miliki. Dari harta yang terbaik, bahkan jiwa dan raga kita sudah siap kita berikan untuk perjuangan dakwah dan kebangkitan Islam.
“Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.”… (al-Ahzab:9)
Ketiga, Pertolongan Allah itu dekat ketika fitnah dan cobaan itu semakin berat, dan ketika pasukan pembela kejahatan itu bersatu melawan. Mereka bersatu untuk melawan Ahlul Haq (Pembela kebenaran) dan mereka terus melakukan konspirasi terhadap Islam, bahkan Seluruh kekuatan Yahudi
Yahudi internasional, Salibis dan seluruh kekuatan mereka bersatu melawan umat Islam dari segala penjuru, seperti yg difirmankan Allah:
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak” Maka pada saat-saat seperti ini pertolongan Allah itu akan datang kepadamu (al-Ahzab:10)
Keempat, ketika ujian itu semakin berat dirasakan oleh kaum mukminin, bahkan dirasakan sampai seperti mencekik leher dan tenggorokan
“Dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.” maka datanglah pertolongan itu.
Kelima, Pertolongan Allah itu sangat dekat ketika Umat Islam bersatu dan kaum munafik ditampakkan Allah konspirasi mereka terhadap kita.
Dan ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”
Pertolongan Allah itu dekat ketika segala upaya dan usaha kaum mukminin sudah maksimal dan kaum munafik berusaha lari dari peperangan. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”.
Ketujuh, Pertolongan Allah itu sangat dekat ketika ditampakkan oleh Allah siapa saja yang telah berkhianat dan bahkan mengatasnamakan agama.
Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya:
“Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.(Al-Ahzab:8). Sehingga mereka lari dari kehidupan kita!
Kedelapan, Kita berhak mendapatkan pertolongan Allah jika kita benar-benar menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan menjadikan qudwah dalam kehidupan.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah.. (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS: Al-Ahzab Ayat: 21)
Kesembilan, Pertolongan Allah itu sangat dekat ketika kita menjaga hubungan kita dengan Allah, menyerahkan semua urusannya hanya kepada Allah. Sehingga dengan keimanan itu kita selalu yakin dan tsiqah (percaya) bahwa pertolongan Allah itu sudah dekat!
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”
“.Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al-Ahzab:22)
Kesepuluh, Pertolongan Allah itu sangat dekat ketika kaum mukminin itu menjaga janji setianya (baiat) untuk tetap berada dalam kebenaran..
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).(Al-Ahzab: 23)
Semoga kita selalu dijaga oleh Allah untuk selalu berada dalam Shaf dan Jamaah ini, bisa mengakhiri kehidupan dengan husnul Khatimah. Wallahu A’lam.

Sumber : Dakwatuna.com

Sabtu, 17 Agustus 2013

Apa itu Ta'aruf?















                  Secara bahasa ta'aruf bisa bermakna ‘berkenalan’ atau ‘saling mengenal’. Asalnya berasal dari akar kata ta’aarafa. Seperti ini sudah ada dalam Al-Qur’an. Simak saja firman Allah (yang artinya),
“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (ta’arofu) ...” (QS. Al Hujurat: 13).
Kata li ta’aarafuu dalam ayat ini mengandug makna bahwa, aslinya tujuan dari semua ciptaan Allah itu adalah agar kita semua saling mengenalyang satu terhadap yang lain. Sehingga secara umum, ta’aruf bisa berarti saling mengenal. Dengan bahasa yang jelas ta’aruf adalah upaya sebagian orang untuk mengenal sebagian yang lain.
Jadi, kata ta’aruf itu mirip dengan makna ‘berkenalan’ dalam bahasa kita. Setiap kali kita berkenalan dengan seseorang, entah itu tetangga kita, orang baru atau sesama penumpang dalam sebuah kendaraan umum misalnya, dapat disebut sebagai ta’aruf. Ta’aruf jenis ini dianjurkan dengan siapa saja, terutama sekali dengan sesama muslimuntuk mengikat hubungan persaudaraan. Tentu saja ada batasan yang harus diperhatikan kalau perkenalan itu terjadi antara dua orang berlawanan jenis, yaitu pria dengan wanita. Untuk itu umat islam sudah menganjurkan memberlakukan hijab bagi wanita muslimah, yang bukan hanya berarti selembar jilbab dan baju kurung yang menutupi tubuhnya dari pandangan pria yang bukan mahram, tapi juga melindungi pergaulannya dengan lawan jenis yang tidak diizinkan syari’at. Contoh dari pergaulan yang tidak diizinkan syari’at ini ialah berduaan atau bercampur-baur antara beberapa orang yang berlainan jenis dalam satu tempat secara berbauran, pergi bersama pria yang bukan mahram, dan berbagai hal lain yang dilarang syari’at. Semua itu tidak otomatis menjadi halal bila diatasnamakan ta’aruf.

Ta’aruf atau perkenalan yang dianjurkan dalam islam adalah dalam batas-batas yang tidak melanggar aturan islam itu sendiri. Kalau dalam soalan makan, minum dan berpakaian saja islam memiliki aturan yang harus dijaga, misalnya tidak sembarang makan dan minum itu halal, dan tidak sembarang pakaian boleh dipakai, maka untuk hal-hal lain yang lebih kompleks islam tentu juga memiliki aturannya. Adab pergaulan, adab berkenelan, adab mengenal sesama muslim, juga memiliki aturan yang harus diperhatikan. Jadi jangan sekali-kali mencampuradukkan antara anjuran berkenalan atau mengenal sesama muslim dengan larangan-larangan agama seputar proses berkenalan tersebut. Bila dilakukan, maka hal itu sama saja dengan mencampuradukkan antara makanan halal dengan haram, dengan dalil karena manusiahidup harus makan, dan bahwa makan minum itu boleh dilakukan diluar puasa.

Kemudian dalam makna khusus proses pengenalan sesorang terhadap pria atau wanita yang akan dipilih sebagai pasangan hidup sering juga disebut sebagai ta’aruf. Sebagai istilah ta’aruf tentu saja bebas nilai, sampai ada hal-hal yang memuat aplikasi dari hal-hal yang dianjurkan atau diwajibkan, atau sebaliknya, justru hal-hal yang tidak baik atau dilarang. Sejauh yang kami tahu, ungkapan ta’aruf ini tidak pernah disebutkan sebagai istilah khusus sengan arti perkenalan antar dua orang berlainan jenis yang ingin menjajaki kecocokan sebelum menikah. Karena tak ada penggunaan istilah yang sama untuk makna tersebut, maka sekali lagi kata ta’aruf ini masih bebas dinilai. Dan karna bebas nilai inilah, maka aplikasi ta’aruf ini pun bisa ditarik ulur menjadi nilai-nilai yang dianjurkan atau bahkan diwajibkan, atau sebaliknya, justru menjadi nilai-nilai yang dilarang dan diharamkan.

Sumber : Remajaislam.com

5 Tips Membaca Cepat















                 Meningkatnya pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Membaca di sini baik dalam ilmu dunia maupun ilmu agama. Dengan mengefisienkan waktu, bahan bacaan yang begitu banyak bisa dibaca dengan cepat dalam waktu singkat. Tips membaca cepat inilah yang bisa ditempuh.
1- Percepat: Bagian yang sudah dipahami bisa dipercepat. Bahkan bagian yang terasa tidak penting bisa dilompati.
2- Perlambat: Bagian yang sulit dipahami diperlambat guna memahami istilah baru dan sulit.
3- Tidak bersuara: Tidak perlu mengeluarkan suara saat membaca karena seperti itu membuat proses membaca memakan waktu lebih lama.
4- Tidak bergerak: Tidak banyak bergerak saat membaca akan membuat proses membaca lebih cepat dan tidak jadi membuang-buang waktu.
5- Merasa diri tidak tahu: Ketika membaca buku atau kitab janganlah berpikir bahwa kita sudah tahu isi buku tersebut karena hal itu akan membuat kita tidak ingin tahu lebih banyak atau tidak ingin menambah ilmu. Jadinya kurang semangat untuk mengulas isi buku.
Semua hal di atas semakin mudah dilakukan jika kita senantiasa meminta tolong pada Allah dan selalu memohon pada-Nya ilmu yang bermanfaat. Di antara do’a yang bisa dipanjatkan adalah do’a memohon kemudahan berikut ini,

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

Artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah

Sumber : Remajaislam.com

Minggu, 28 Juli 2013

Istifalan M.D.A Nurul Iman | T.P.Q | R.A

Tahun Ajaran 2012-2013



http://d2bm3ljpacyxu8.cloudfront.net/width/940/rudinet.webs.com/IMG_1687.JPG 

http://d2bm3ljpacyxu8.cloudfront.net/width/940/rudinet.webs.com/IMG_1713.JPG

https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc1/q71/s720x720/1002785_282022901943283_178342621_n.jpg